Aspirin, obat berusia 150 tahun telah digunakan secara luas sebagai preventif sekunder serangan jantung ataupun stroke. Kegunaan Aspirin sebagai preventif primer masih menjadi perdebatan. Selama ini Aspirin telah banyak diresepkan dokter di seluruh dunia pada praktik klinik dalam pencegahan primer infarct miokard atau stroke.
Perlu ditekankan, bahwa Aspirin masih tetap menjadi obat yang direkomendasikan pada pasien untuk preventif sekunder. Hal ini sudah terbukti dengan penelitian yang sudah banyak dilakukan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018, secara mengejutkan bahwa Aspirin tidak mempunyai efek lebih baik dibandingkan plasebo dalam mencegah kejadian vaskular (serangan jantung dan stroke). Setelah beberapa penelitian besar pada 2018 memperlihatkan bahwa asprin tidak mempunyai manfaat pada pasien dengan hipertensi, hiperkolestrolemia dalam pencegahan primer dibandingkan dengan plasebo dalam pengamatan beberapa tahun yang melibatkan lebih dari ribuan pasien. Aspirin tidak mampu memberikan dibandingkan dengan risiko perdarahan.
Beberapa penelitian tidak merekomendasikan Aspirin sebagai obat untuk pencegahan primer
ARRIVE TRIAL. Uji klinis terandomisasi yang berlangsung dari 2007 hingga 2016, melibatkan 12.546 partisipan. Dalam follow up selama 60 bulan (5 tahun) didapatkan bahwa risiko kejadian perdarahan muncul lebih tinggi pada pengguna Aspirin dibandingkan plasebo (0,97% vs 0,46%). Sedangkan efek serius didapatkan Aspirin 20,19% vs plasebo 20,89%, tidak jauh berbeda. Perlu diketahui bahwa kelompok yang dieksklusi dari penelitian ini adalah diabetes melitus.
ASCEND TRIAL. Penelitian yang juga melihat efek aspirin dibanding plasebo pada 15.480 partisipan. Aspirin mengurangi risiko yang dihubungkan dengan kejadian vaskular sebanyak 12% setelah pengamatan selama 7 tahun. Namun efek perdarahannya meningkat sebanyak 29%. Secara statistik mortalitas antara Aspirin dan plasebo tidak ada perbedaan. Penelitan ini melibatkan penderita diabetes melitus yang dieksklusi pada penelitian ARRIVE.
Penelitan lainnya, GLOBAL LEADERS TRIAL melibatkan 15.968 subjek tidak lagi merekomendasikan Aspirin selama 1 bulan sebagai obat antitrombotik pada pasien pasca PCI.


Ketiga penelitian ini pada tahun 2018 menjadi topik hangat seperti halnya seperti 5 penelitian RCT pada tahun 2015 tentang efektivitas endovascular thrombectomy pada stroke iskemik akut.
Jika dihadapakan pertanyaan oleh pasien. Apakah perlu konnsumsi Aspirin pada pasien dengan hipertensi, usia tua, dan hiperkolestrolemia? silahkan membaca topik clinical decision NEJM berikut ini: Doctor, Should I Keep Taking an Aspirin a Day?
Semoga bermanfaat….
Referensi
- Gaziano, J. M. et al. Use of aspirin to reduce risk of initial vascular events in patients at moderate risk of cardiovascular disease (ARRIVE): a randomised, double-blind, placebo-controlled trial. Lancet392, 1036-1046 (2018).
- The ASCEND Study Collaborative Group. Effects of aspirin for primary prevention in persons with diabetes mellitus. N. Engl. J. Med.379, 1529-1539 (2018).
- Vranckx, P. et al. Ticagrelor plus aspirin for 1 month, followed by ticagrelor monotherapy for 23 months versus aspirin plus clopidogrel or ticagrelor for 12 months, followed by aspirin monotherapy for 12 months after implantation of a drug-eluting stent: a multicentre, open-label, randomised superiority trial. Lancet 392, 940-949 (2018).