Pulsatile Tinitus, Waspadai Suatu Dural Arteriovenous Fistule (DAVF)

Tinitus merupakan gejala yang umum dari gangguan di telinga, yaitu sensasi subjektif berupa suara berdesir di telinga. Sebagian populasi normal hampir pernah merasakan tinitus. Namun kita mesti mewaspadai apa yang disebut “pulsatil tinitus”, yang kadang disebut juga synchronus tinitus karena seirama dengan denyut jantung. Pasien dengan keluhan tinitus pada awalnya tentu dapat datang ke teman sejawat kita Spesialis ENT/Telinga Hidung Tenggorakan (THT).

Dural Arteriovenous Fistule (DAVF) merupakan penyebab dari tinitus yang harus disingkirkan, kecurigaan semakin tinggi jika keluhan disertai nyeri kepala tipikal tekanan tinggi intrakranial. DAVF didefinisikan sebagai suatu anomali  arteri dan vena yang high flow ditandai dengan adanya “shunting” tanpa adanya suatu nidus (yang membedakan dengan AVM). Prevalensinya berkisari 10-15% dari semua kelainan malformasi vaskular.

Sebagian besar dapat tidak bermanifestasi, bergantung derajatnya, yang gejala yang ditakutkan adalah perdarahan yang sering pada DAVF di tentorial dan fossa posterior. Gejala pulsatil tinitus muncul dikarenakan adanya aliran darah yang turbulance. 

Klasifikasi DAVF

Terdapat empat klasifikasi DAVF yag umumnya dapat dilihat pada tabel berikut. Yang paling sederhana adalah Borden et. al, sedangkan yang lebih lengkap adalah klasifikasi Cognard et. al

 

Diagnostik Imaging

DSA merupakan standar emas untuk mengevaluasi DAVF, dengan memeriksa ke 6 pembuluh darah otak termasuk arteri karotis eksterna. Setiap angiogram diperiksa hingga fase vena.

CTA tidak lebih sensitif dibandingkan DSA, dan sebaiknya tidak dianjurkan.

MRI akan sulit mengidentifikasi terutama tanpa adanya retrograde venous drainage. Sehingga MRI yang normal, tidak menyingkirkan suatu DAVF.

Tatalaksana

Tatalaksana DAVF bergantung dari gejalanya, Borden tipe 1 dianggap jinak dan cukup konservatif, karena risiko peradarahan mendekaati 0%. DAVF dengan High grade (Borden tipe II dan III) sebaiknya dilakukan tatalaksana, karena berisiko tinggi untuk mengalami perdarahan. Prisnispnya mengeliminasi shunting arteri vena. Penutupan yang inkomplit akan menyebabkan risiko perdarahan tidak hilang karena terbentukanya kolateral. tatalaksana secara endovaskular melalalui transvena lebih baik daripada transarteri, tentunya setelah mengkaji ulang vena tersbut fungsional atau tidak.

 

Referensi

  1. Eskey CJ. et al. Indications for the Performance of Intracranial Endovascular Neurointerventional Procedures: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation 2018 May 22; 137:e661-e689. 
  2. https://radiologykey.com/perfusion-in-dural-arteriovenous-fistulas/
  3. https://www.bmc.org/stroke-and-cerebrovascular-center/services/dural-arteriovenous-fistula-davf

 

Comments:

Your email address will not be published. Required fields are marked *